Kamis, 27 Februari 2020

When the wind blows

Aku tidak tinggal di negara 4 musim. Hanya ada 2 musim yang pasti: hujan dan panas.
Seketika musim berubah, begitu pula dengan bunga yang ikut merekah.
Serbuknya terbawa angin yang berhembus.
Benarkah angin yang membawa? Atau memang bunga yang sengaja melepaskan?
Hanya sang Ilah yang tahu.
Di musim panas, tiupan angin  kecil sangat menyejukan, namun akan berbeda ketika musim berubah.
Sedikit saja ia berhembus, maka rasa dingin seketika menyergap.
Angin yang membawa anganku terbang, melewati berbagai rasa dan pemikiran.
Sejenak rindu, sejenak gelisah, sejenak bahagia, bahkan sejenak menyedihkan.
Daun-daun yang bergoyang tertiup semilir angin memperlihatkan arah aliran angin.
Jarang sekali angin terlihat, tapi kehadirannya sangat mudah dirasakan.
Seketika rambut-rambut halus yang ada di bagian tubuh terkena angin, seketika itu pula akan ada berbagai-bagai reaksi.
Bagi orang yang berpeluh, angin yang datang akan membuatnya bahagia.
Bagi orang yang basah kuyup, angin hanya akan membuatnya menyengir kedinginan.
Bagi yang gugup, angin hanya akan menambah rasa gugupnya dan dingin pada tangan maupun kakinya.
Bagi yang menangis, angin bisa seketika mengeringkan air mata yang sudah keluar dan jatuh di pipi.
Jika kupikirkan, mungkin cinta seperti angin.
Yang tidak kita ketahui kapan ia akan datang.
Yang kadang ia justru tiba disaat yang tidak diinginkan.
Bahkan kadang juga membawa bencana.
Aku percaya setiap orang punya cerita cintanya.
Hanya saja tidak semua hal tentang cinta berakhir bahagia dan sempurna.
Sesekali cinta perlu mengalami lara, gemuruh dan gelisah.
Hingga sampai tiba saatnya, cinta akan menjelma menjadi sebuah pembelajaran berharga.


Copyright ⓒ 2020 deboraayukristanti.blogspot.com. All Rights Reserved

0 komentar:

Posting Komentar

 
Ayu's Notes Blogger Template by Ipietoon Blogger Template